Hati-hati Jika Ingin Jadi Subrental Mobil di Jogja

Masuk: July 29th, 2016 | Kategori: Hukum | Komentar: 0


Pada tanggal 19 April 2016 seorang bernama M. Nurkhozim beralamat di desa Imogiri, Yogyakarta menyewa mobil dari saya (Eko Harianto). Saya di sini bukan sebagai pemilik rental namun saya adalah sub dari rental Lucky Rental di Jogja. Kebetulan saya cukup kenal dengan pemilik rental ini karena sebelum nya dia pernah menitipkan GoPro (action cam) ke saya karena saya juga punya usaha Sewa Kamera Gopro. Pemilik ini sebut saja Sadran, masih seumuran dengan saya dan dia juga mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Jogja. Waktu berjalan -+ 3 bulan saya mengenal dan selalu bekerja sama di sewa mobil dia karena bekerja di salah satu hotel di Jogja guna memenuhi permintaan tamu. Dengan pembagian fee per 12 / 24 jam saya mendapatkan 50.000.

Kembali di tanggal 19 April 2016, penyewa ini seperti biasa dan sesuai prosedural yaitu:
– Menjaminkan sebuah kendaraan
– Menjaminkan 2 buah KTP
– Dan bersedia saya foto.

Awalnya orang ini terlihat baik, namun setelah batas waktu pengembalian mobil yaitu 3 hari berarti tanggal 21 April 2016, Pelaku ini menghubungi saya jika akan xxtend 1 hari karena urusannya belum kelar, karena ini mobil bukan milik saya lantas saya menghubungu Sadran guna menanyakan apakah bisa di perpanjang 1 hari atau tidak? dan ternyata BISA.

Setelah itu saya pun mengonfirmasi ke pelaku bahwa mobil bisa di extend 1 hari namun hanya 1 hari karena lusa sudah ada yang mau booking. Kemudian pelaku membalas BBM saya dengan kata-kata “Insyaallah ya mas”. Lantas saya mempertegas lagi namun hanya DELIVER tidak di READ. Sekitar pukul 01.00 Malam pada 22 April 2016 saya mencoba untuk menghubungi kembali, Alangkah terkejutnya ternyata kontak BBM saya telah di hapus, dan saya mencoba menghubungi via nomor seluler ternyata juga tidak aktif.

Kemudian saya dengan paniknya menghubungi Sadran (pemilik rental) dan dia seolah santai sekali bahkan tidak terlihat panik kalau mobil rental dia di bawa kabur. Kemudian sadran menyuruh anak buahnya bernama Novel untuk mengecek posisi terakhir mobil.

Ketika keesokan hari nya saya mendatangi alamat yg tertera di KTP dan pelaku sempat memberikan alamat tinggalnya karena saat ambil mobil dia bilang kalau rumahnya sudah pindah dan tidak di alamat KTP lagi. Setelah saya sampai lokasi yang dimaksud, ternyata itu adalah sebuah Guest House yang disewakan bukan rumah, lalu saya pun bertanya kepada rumah di sampingnya. Ternyata saya orang ke-2 yang mencari pelaku tersebut karena sebelumnya ada ibu-ibu yang mencari orang tersebut juga. Kemudian saya meminta kontak pemilik Home Stay tersebut, dan ternyata Bapak tersebut juga menjadi korban, M. Nurkhozim ini belum membayar 2 malam terakhir nya dan kuncinya di bawa oleh pelaku.

Akhirnya saya pun kembali ke rumah Sadran (pemilik rental) dengan muka lusuh dan menjelaskan kejadian tersebut. Lagi-lagi orang ini terlihat santai dan tidak ada kepanikan sama sekali di wajahnya (saat itu saya belum curiga). Kemudian dengan santainya si Sadran nyeletuk “Udah santai aja, nanti juga ketemu”. Ini kebetulan si Novel mau ke arah Nganjuk karena kebetulan posisi mobil berhenti di daerah Gemarang (antara Madiun dan Kediri), kemudian keesokan harinya sekitar pukul 20.00 saya ke rumah Sadran guna menanyakan informasi tersebut dan berharap ada kabar baik.

Sesampainya di sana saya malah tidak ketemu sama sekali dengan mas Sadran, dia malah asik main PS. Dan Saya di temui oleh si Novel ini. Di sini dia cerita -+ seperti ini “Aduuh bro, saya udah sampai titik NOL Derajat posisi mobil itu berhenti tapi udah gak ada apa-apa. Saya sempat tanya ke orang sana kebetulan penjaga gerbang masuknya dan inti dari percakapan tersebut adalah jika memang benar ada mobil Ertiga Silver sedang mengganti ban di titik itu sekitar 3 hari yang lalu, lalu si Novel ini menanyakan jika saya masuk ke desa ini bagaimana? Tidak sembarangan orang bisa masuk kesana kecuali ada kenalan, jika tidak nanti tidak bisa keluar karena di desa itu tempatnya para penjahat”.¬† Kurang lebih cerita dari novel seperti itu.

Lalu saya menanyakan, lantas bagaimana solusinya, saya akan lapor polisi dulu aja (kata saya). Jangan broo kamu kalau lapor polisi nanti akan jadi ribet dan kamu hanya buang uang saja. Lantas bagaimana? (kata saya). Saya ada kenalan orang DC (Debt Collector) saya sering minta bantuan ke dia itu, kemarin mobil saya 5 di bawa kabur tapi balik semua. Lalu kita harus bayar berapa utk jasa DC itu? Dia menjawab “KAMU SIAPIN AJA SEKITAR 25 JT” saya pun shock dan kaget juga merasa keberatan. Lalu saya memutuskan untuk pulang dulu.

Kemudian keesokan harinya saya mencoba konsultasi ke Polres Sleman dan bertemu dengan para anggota di bagian Curanmor singkat cerita saya ceritakan panjang lebar dan mereka menjawab, “kamu ini hanya sbg korban, jangan mau km keluarin uang sepeserpun”. Lalu saya akan membuka Laporan Kehilangan namun mereka menolak karena semua barang bukti sudah saya serahkan ke Sadran. dan ketika saya minta mereka bilang kalau mereka sudah buka LP di Polda. Lalu di telusuri kebenaran nya oleh Pak Heri (anggota senior di Polres Sleman) dan akhir nya ketemu lah nama Rendi (Polda Jogja) dan usut punya usut Rendi ini di tanya tentang barang bukti tersebut dia menjawabnya dengan terbata-bata. dan saya pun di suruh menemui Rendi guna mengambil barang bukti untuk membuka LP di Polres Sleman.

Akhirnya saya hubungi Rendi dan menetapkan tempat. Setelah sampai di tempat saya hubungi tidak ada jawaban pasti (udah 30 menit). Kemudian dia menghubungi saya kembali jika tempatnya di ubah saja yaitu di salah satu sanggar. Kemudian saya meng iyakan. Tetapi sebelum sampai di sanggar tersebut saya mampir ke polsek setempat, dan saya sempat cerita sedikit ke mereka tapi salah satu anggota mengatakan seperti ini “Gak mungkin mas barang bukti di bawa-bawa, yang ada kalau barang bukti itu di simpan di kantor, kalo gak pecaya coba aja ke sana paling gak bakal ketemu sama oangnya (Rendi)”.

Dan tak lama saya pun sampai di sanggar, Lagi saya hubungi namun tetap nihil dan sampai jam 9 malam saya tidak bertemu orangnya. Di sini saya merasa telah di permainkan. Dan ternyata saya dapat info jika Rendi ini adalah saudara dari si Novel (yang ngotot minta saya byr 25 jt). Akhirnya saya pun sempat panik dan pasrah, Lalu pada tanggal 30 Mei saya mendapatkan Surat Panggilan dari Polda Jogja. Dan di laporan tersebut yang melapor adalah Sdr Novel dan alanglah terkejutnya saya di laporkan sebagai tersangka penggelapan mobil tersebut.

Lalu penyidik pun memintai keterangan saya dan beberapa saksi. Sampai sekarang proses ini belum kelar, mungkin ada rekan rekan memberikan saya solusi atas masalah saya ini yang saya merasa dizolimi dan di peras dalam masalah ini.

Kejanggalan dalam kasus  :
– Menurut teman saya tinggal di deket daerah Gemarang, bahwa Gemarang itu tidak seperti yang diceritakan oleh Novel.
– Kenapa ketika saya hendak buka Laporan ke Polisi di larang ? Tetapi malah saya sekarang yang di laporkan sebagai tersangka nya.
– Tidak terlihat panik sama sekali baik Sadran maupun Novel.

Usaha yang saya lakukan:
– Saya sudah menyebarluaskan foto pelaku di media sosial
– Mencari informasi ke beberapa teman indigo baik tentang orang maupun mobilnya

Mohon maaf kiranya saya ada yang lupa, namun saya punya detail masalah kejadiannya.

Eko Harianto


Sebarkan Tulisan Ini Melalui:

Ingin berkomentar?

Lapor dan Apresiasikan!